Seputar Trading Forex - Copy Trade - Belajar Trading Forex - Review Broker Terpercaya: Dampak Brexit Menurut Goerge Soros >>

Dampak Brexit Menurut Goerge Soros >>

Juni 21, 2016

Referendum Inggris yang akan menentukan akan keluar dari Uni Eropa atau tidak, yang akan digelar pada hari Kamis pekan ini, sungguh menyedot perhatian utamanya pasar finansial. Tak terkecuali George Soros, investor kawakan satu ini tercatat pernah membuat pertaruhan yang "mematikan" bagi Bank Sentral Inggris (BoE) tentang Poundsterling Inggris pada bulan September tahun 1992 yang dikenal dengan peristiwa "Black Wednesday"
Prediksi George Soros, Referendum Inggris yang akan menentukan akan keluar dari Uni Eropa atau tidak dampaknya akan Lebih Parah Daripada "Black Wednesday" 1992.Terkait dengan referendum Brexit tahun ini, Soros memperingatkan bahwa apabila Inggris keluar dari Uni Eropa maka dampaknya akan sangat berbahaya. Tak tanggung-tanggung, Soros menyebut bahwa bahaya Poundsterling setelah referendum Brexit nanti akan lebih parah dibandingkan dengan dampak "Black Wednesday".

Dalam kolom tamu yang diterbitkan oleh surat kabar Guardian Inggris hari Selasa (21/Juni) ini dari hasil wawancaranya dengan George Soros, Soros sedikit menukil kilas balik, saat dirinya mendapat banyak sanjungan karena memicu devaluasi Pound Inggris pada tahun 1992 yang disusul dengan dikeluarkannya mata uang itu dari mekanisme nilai tukar Eropa (ERM).

3 Alasan Mengapa Brexit Sangat Berbahaya

Sejumlah pengamat Brexit, baik dari pihak Brexit maupun pihak Bremain, sibuk berdebat dan mengatakan bahwa Poundsterling akan mengulang sejarahnya pada tahun 1992 di tahun ini, Soros justru merasa tak yakin. Ada tiga alasan yang menurut Soros, Brexit akan menimbulkan dampak yang lebih parah:

Pertama, pada tahun 1992, BoE masih bisa memotong suku bunganya secara drastis setelah devaluasi itu. Namun, sekarang hal itu tak mungkin dilakukan karena tingkat suku bunga BoE sudah di dekat nol, tulis Soros. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) kemudian harga rumah akan jatuh dan lapangan kerja akan menyusut, maka kebijakan moneter tak akan bisa banyak membantu.

Kedua, defisit neraca berjalan Inggris jauh lebih besar sekarang daripada pada tahun 1992 ataupun 2008. Faktanya, Soros mencatat, Inggris saat ini menjadi lebih tergantung pada modal asing dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Alih-alih terjadi capital inflow seperti setelah devaluasi tahun 1992, Brexit justru akan memicu capital flow.

Ketiga, Soros mengatakan, devaluasi pasca Brexit mungkin tidak akan mendorong sektor ekspor seperti pada tahun 1992 karena kondisi perdagangan setelah Brexit terlalu tak pasti bagi investor untuk membuka investasi baru ataupun perekrutan tenaga kerja.

Risikonya Terlalu Besar" Brexit akan membuat sebagian orang menjadi sangat kaya, tetapi sebagian besar pemberi suara (voter) justru sangat miskin," prediksi Soros sembari mengingatkan "Leave" dapat mengarah pada "Black Friday". Di akhir esai itu, Sang kolumnis menyimpulkan bahwa Soros menunjukkan sikap yang senada dengan David Cameron, yakni agar rakyat Inggris memilih suara "remain".


Sumber: seputar forex.com

Informasi Lainnya

0 komentar

NEWSLETTER SeputarTradingForex

Dapatkan Update Informasi Terbaru Langsung ke Email Anda Sekarang.